I miss you but I hate you
Begitu kira-kira satu kalimat yang paling tepat menggambarkan perasaan saya terhadap Jakarta.
Selama hampir seumur hidup saya tinggal di kota ini. Dari jamannya Jakarta belum sepadat hari ini, belum banyak motor dan mobil di jalan, belum terlalu banyak macet, belum banyak jalan layang, belum banyak mall, belum separah hari ini kadar polusinya, belum banyak bangunan apartemen dan belum-belum lainnya. Sekarang hilangkan semua kata belum pada kalimat tadi, yak, begitulah Jakarta hari ini.
Terbayang Jakarta yang amburadul? Jakarta yang kacau? Jakarta kota macet? Jakarta yang kusut? Jakarta yang tidak tertata dengan baik? Yah, memang begitulah Jakarta hari ini. Tapi percaya atau tidak, Jakarta itu ngangenin, buat saya pribadi.
Coba rasakan tinggal di kota lain untuk beberapa waktu, pasti ada saat tertentu di mana rasanya tiba-tiba ada kerinduan untuk pulang dan menengok Jakarta meski hanya sehari atau dua. Itulah perasaan yang sebulan sekali muncul, waktu saya sempat merasakan hidup 4 tahun di Bandung. Tidak ada yang salah dengan Bandung, kota yang menyenangkan, sejuk, biaya hidup murah dan banyak tempat makan enak. Tetap saja Bandung bukan Jakarta. Walaupun menyenangkan, di waktu-waktu tertentu pasti ada kalanya muncul rasa jenuh dan bosan yang bisa diobati dengan pulang ke Jakarta sesaat.
Coba rasakan berkunjung ke kota lain, dalam atau luar negeri, secara otomatis pasti kita akan membandingkan kota tersebut dengan Jakarta. Baik atau buruk perbandingan yang kita buat antara kota tersebut dengan Jakarta, sebenarnya kita sedang teringat akan Jakarta dan mungkin tanpa sadar ada sedikit kerinduan akan Jakarta di situ.
Sebenarnya ntah apa yang dirindukan dari Jakarta yang semrawut ini. Saat perasaan rindu itu muncul dan saya memutuskan untuk pulang ke Jakarta, toh tetap saja saya masih ngedumel tentang kondisinya. Tetap saja saya mengeluh tentang kondisi Jakarta yang semakin hari semakin macet gak karuan. Tetap saja saya bertanya-tanya “kenapa sih Jakarta gak bisa rapih kayak …”. Mungkin karena keluarga dan sahabat makanya bisa muncul rasa rindu Jakarta, atau mungkin karena ritme hidup di Jakarta, atau mungkin karena memang hampir seumur hidup tinggal di Jakarta atau mungkin juga karena semuanya serba ada di Jakarta.
Buat saya Jakarta adalah rumah, mungkin itu alasan yang paling tepat menjelaskan kalau ditanya kenapa Jakarta ngangenin walaupun sebenarnya amburadul.
